IPM Menyongsong Muktamar XXIV: Menuju IPM yang Relevan, Berdampak, dan Berdaya Saing di Era Disrupsi

Pelaksanaan Muktamar ke-XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi momentum strategis untuk menegaskan kembali arah gerakan pelajar Muhammadiyah di tengah perubahan sosial yang kian cepat. Modernisasi, globalisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan pelajar, mulai dari cara belajar hingga cara membangun relasi sosial.

Dalam konteks ini, Muktamar tidak semestinya dipahami semata sebagai forum pergantian kepemimpinan, melainkan sebagai ruang refleksi ideologis dan perumusan strategi gerakan IPM agar tetap relevan, berdampak, dan berdaya saing, tanpa kehilangan karakter keislaman dan kemuhammadiyahannya.

Modernisasi dan Globalisasi: Realitas yang Tak Terelakkan

Modernisasi dan globalisasi menghadirkan akses informasi yang sangat luas, serta peluang kolaborasi lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pelajar masa kini dapat mengakses ilmu pengetahuan global, membangun jaringan internasional, dan belajar dari berbagai inovasi tanpa sekat geografis. Bagi IPM, kondisi ini membuka peluang memperluas wawasan kader dan memperkuat literasi global pelajar Muhammadiyah.

Namun, globalisasi juga membawa konsekuensi serius, antara lain krisis identitas, banjir informasi yang tak terfilter, dan kecenderungan pragmatis dalam berorganisasi. Tidak sedikit pelajar lebih terhubung secara digital, tetapi semakin terasing secara sosial dan ideologis. Aktivisme pelajar terancam tereduksi menjadi aktivitas formal semata yang minim nalar kritis dan keberpihakan sosial.

Muhammadiyah sejak awal menegaskan bahwa identitasnya adalah “Islam Berkemajuan”, sebagai visi yang mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan semangat kemajuan dan pencerahan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir menyatakan bahwa Islam Berkemajuan bukan sekadar konsep, tetapi telah menjadi identitas utama Muhammadiyah yang mendorong warga persyarikatan untuk merujuk pada nilai Islam sebagai pandangan dunia dalam memahami realitas modern.

Disrupsi AI dan Budaya Instan: Tantangan Serius bagi Kaderisasi

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya mempermudah akses informasi, tetapi juga secara perlahan mengubah cara pelajar memahami proses belajar itu sendiri. Jika sebelumnya belajar identik dengan proses membaca, berdiskusi, dan mengolah gagasan, kini banyak aktivitas akademik berisiko direduksi menjadi sekadar aktivitas menyalin, menyusun, dan menyelesaikan tugas secara cepat. Tugas dapat diselesaikan dalam hitungan detik, referensi tersedia tanpa proses verifikasi yang memadai, dan kemampuan berpikir reflektif kerap tergantikan oleh kecerdasan mesin.

Masalahnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada perubahan kultur belajar yang semakin menormalisasi hasil tanpa proses. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat melahirkan generasi pelajar yang terampil secara teknis, tetapi rapuh secara intelektual dan etis. Ketika proses berpikir digantikan oleh algoritma, maka yang tergerus bukan hanya kapasitas analitis, tetapi juga kejujuran akademik, tanggung jawab moral, serta keberanian mengambil posisi kritis.

Bagi IPM, situasi ini menjadi tantangan serius bagi sistem kaderisasi, sebab kaderisasi yang hanya menekankan penguasaan materi dan keterampilan administratif tidak lagi memadai di tengah kompleksitas perubahan zaman. Kader IPM berisiko tumbuh sebagai aktivis yang aktif secara struktural, tetapi miskin kedalaman gagasan dan lemah dalam sensitivitas sosial, padahal sejarah IPM dan Muhammadiyah justru bertumpu pada tradisi berpikir kritis, diskusi ideologis, dan keberanian intelektual untuk bersikap. Karena itu, IPM tidak cukup hanya mendorong kader agar sekadar “melek teknologi”, melainkan harus membangun kesadaran etis, spiritual, dan epistemologis dalam penggunaan teknologi, dengan menempatkan AI sebagai alat bantu untuk memperkaya analisis, bukan sebagai pengganti nalar. Tanpa kerangka nilai yang kuat, teknologi justru dapat mempercepat proses depolitisasi pelajar, membuat mereka sibuk di ruang digital, tetapi semakin jauh dari realitas sosial dan problem kemanusiaan di sekitarnya.

Lebih jauh, IPM juga perlu mendorong kader agar memahami dampak sosial dan politik dari perkembangan teknologi: bagaimana algoritma memengaruhi opini publik, bagaimana disinformasi menyebar, dan bagaimana ruang digital dapat digunakan untuk advokasi pendidikan serta isu-isu kemanusiaan. Dengan demikian, kader IPM tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga aktor yang sadar akan implikasi sosial dari teknologi itu sendiri.

Pada titik inilah, tantangan AI bukan sekadar soal adaptasi teknologis, tetapi soal keberlanjutan karakter kader. Jika IPM gagal merespons secara serius, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas program, tetapi masa depan kaderisasi itu sendiri. Sebaliknya, jika IPM mampu menjadikan disrupsi teknologi sebagai pintu masuk untuk memperkuat literasi kritis dan etika gerakan, maka IPM justru dapat melahirkan generasi pelajar yang unggul secara intelektual, tangguh secara moral, dan relevan dalam lanskap perubahan global.

Langkah Strategis IPM Pasca-Muktamar

Agar tidak sekadar menjadi agenda rutin lima tahunan, Muktamar IPM ke-XXIV harus melahirkan langkah-langkah strategis yang konkret, di antaranya:

Pertama, transformasi kaderisasi berbasis literasi kritis dan digital. Kaderisasi IPM harus mengintegrasikan literasi media, etika digital, pemanfaatan AI secara produktif, serta penguatan nalar kritis agar kader tidak menjadi konsumen pasif teknologi.

Kedua, penguatan gerakan advokasi pelajar. IPM perlu hadir dalam isu-isu strategis seperti kebijakan pendidikan, kesehatan mental remaja, kekerasan di sekolah, dan kesenjangan akses pendidikan. IPM harus kembali menjadi suara moral pelajar di ruang publik.

Ketiga, revitalisasi komunitas intelektual pelajar. Diskusi, riset kecil, penulisan opini, dan kajian tematik harus dihidupkan kembali sebagai tradisi intelektual IPM. Pelajar Muhammadiyah harus dikenal sebagai pelajar yang berpikir, bukan hanya aktif berorganisasi.

Keempat, kolaborasi global dan lintas sektor. Globalisasi harus disambut dengan jejaring internasional, pertukaran pelajar, serta kolaborasi dengan komunitas pendidikan, teknologi, dan sosial untuk memperluas dampak gerakan IPM.

Menuju IPM yang Relevan, Berdampak, dan Berdaya Saing

Relevansi IPM di masa depan sangat ditentukan oleh kemampuannya membaca kebutuhan nyata pelajar dan menjawabnya melalui program yang kontekstual. IPM tidak cukup hanya hadir di ruang-ruang struktural organisasi, tetapi juga harus hadir dalam realitas kehidupan pelajar: di sekolah, di ruang digital, dan di tengah persoalan sosial yang mereka hadapi. Relevan berarti mampu berbicara dengan bahasa generasi muda, memahami keresahan mereka, serta menawarkan solusi yang aplikatif.

Namun relevansi saja tidak cukup. IPM juga harus mampu menghadirkan dampak sosial yang nyata. Program dan gerakan IPM perlu diukur dari sejauh mana ia mampu meningkatkan kualitas literasi, kesadaran kritis, dan keberdayaan pelajar. Gerakan advokasi pendidikan, kampanye kesehatan mental, literasi digital, hingga penguatan karakter pelajar harus menjadi bagian dari wajah baru IPM yang tidak hanya aktif secara internal, tetapi juga terasa manfaatnya di ruang publik.

Di saat yang sama, IPM dituntut memiliki daya saing di tengah kompetisi global dan perubahan teknologi yang cepat. Daya saing ini bukan semata soal kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi lintas budaya, serta penguasaan teknologi secara etis dan produktif. Kader IPM harus dipersiapkan sebagai pelajar yang mampu bersaing, namun tetap berpijak pada nilai keislaman dan prinsip Islam Berkemajuan.

Pada akhirnya, tantangan modernisasi, globalisasi, dan disrupsi teknologi tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata, tetapi sebagai ruang aktualisasi bagi IPM untuk membuktikan kapasitasnya sebagai organisasi pelajar Islam yang adaptif sekaligus berprinsip. IPM harus mampu menunjukkan bahwa di tengah dunia yang serba instan, masih ada ruang bagi proses kaderisasi yang mendalam, gerakan yang bermakna, dan cita-cita besar membangun generasi berkemajuan.

Dengan demikian, Muktamar XXIV bukan hanya tentang memilih pimpinan baru, melainkan tentang memastikan bahwa IPM tetap menjadi rumah pembinaan pelajar yang relevan dengan zaman, berdampak bagi masyarakat, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global.

Nuun wal Qalami wama Yasturun

Ditulis oleh Ghufran Al Ghifary
PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah
PW IPM Sulawesi Tenggara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *